Takut

Hari berganti dengan hari lainnya. Aku masih takut-takut nekat untuk membuka social media atau hal yang berkaitan dengan chatting. Semuanya karena siapa? Kamu.

Tiap hari aku ngebuka social media sama chatting messenger… setiap kali juga aku ketakutan sendiri. Takut ngeliat ada kamu disana. Takut banget. Enggak tau kenapa. Takut ngeliat kamu update yang bikin aku stres sendiri. Takut ngeliat kamu yang bikin aku pusing sendiri dan marah-marah sendiri. Terbukti, hari ini pun masih kaya gitu. Lelah… mau sampai kapan kaya gini terus… sampai kapan… Apa aku harus bener-bener enggak perlu peduli sama kamu? Gimana caranya biar aku enggak peduli setiap kali aku ngeliat nama kamu sama foto kamu di hp aku? Gimana? Gimana?? GIMANA?! Kenapa sih harus kaya gini? Kenapa sih aku masih enggak rela? Kenapa sih… sesusah ini untuk ikhlas? Udahan dong… udahan game nya udahan udahan aku kalah. Aku kalah. Aku engga bisa apa-apa kalo udah ada kaitannya sama kamu. Aku serba salah mau ngapa-ngapain kalo udah berkaitan sama kamu. Aku mau marah enggak bisa kalo udah ada kaitannya sama kamu. Kamu. Iya kamu. Cuma kamu yang bisa bikin aku stres di masa-masa ini setelah tugas sama ulangan. Gimana caranya aku engga buka-buka lagi kenangan kita yang singkat tapi tetep aku simpen? Gimana caranya biar aku enggak buka-buka kenangan yang udah aku simpen dengan rapih itu? Gimana caranya buat aku nepatin janji aku buat ngelupain kenangan kita dan perasaan aku? Gimana caranya biar aku engga ngebuka chat history kita? Gimana caranya biar aku engga luluh sama kamu? Gimana caranya biar aku bisa ‘masa bodo’ sama kamu? Berapa lama lagi aku harus kaya gini? Aku capek. Aku beneran capek kaya gini terus. Aku capek setiap hari takut-takut berangkat sama pulang sekolah. Aku capek setiap hari di sekolah takut ketemu kamu. Aku capek setiap hari takut ngecek social media terus ngeliat nama kamu atau foto kamu disana. Aku capek harus boong sama diri aku sendiri kalo aku harus bisa move on padahal aku masih suka sama kamu. Aku capek jadi cewek bego yang masih suka sama cowok yang udah enggak peduli dan udah jadi masa lalu aku. Aku capek kenapa aku harus peduli kamu deket sama cewek padahal kamu udah bukan siapa-siapa aku lagi. Aku capek harus masih nahan cemburu setiap liat kamu deket sama cewek. Aku capek ngeliat kamu bisa akrab sama temen cewek kamu, aku nanya sama diri aku sendiri: ‘Kenapa bukan aku yang jadi dia?’. Kenapa bukan aku yang jadi dia? Kamu ganteng, dia cantik kalian deket kenapa kalian enggak jadi satu aja? Biar sekalian aku sakit hati. Biar sekalian aku bisa lupain kamu. Biarin. Biarin aku emang harus dibanting sekeras mungkin dulu baru kapok. Udah disakitin masih suka, bodoh banget. Aku capek setiap hari takut-takut nekat kaya gini. Udahan… aku mau ngibarin bendera putih selama mungkin sampe kamu puas. Iya kamu emang selalu berhasil ngebuat aku gak bisa berbuat apa-apa kaya sekarang. Sekuat apapun tekad aku buat ngelupain kamu ataupun move on kalo hati aku masih di kamu aku enggak bisa apa-apa.

By akihisaebina Posted in Story

Hadirmu

Hari ini, aku menatap langit sore. Langit sore kali ini berwarna merah, semerah cintaku yang telah kau buang.

Terkejutnya diriku hari ini tak jarang aku melihatmu. Di pagi hari yang sejuk dengan di temani suasana hati tak menentu aku berjalan. Namun dengan seketika aku membeku saat aku melihat paras mu yang tampan terlintas di jarak mata memandang. Aku tak tahu harus berbuat apa, namun memang tak banyak yang ku perbuat. Aku bersembunyi. Bersembunyi di balik dinding yang menjulang tinggi. Aku tau aku terlihat bodoh. Namun satu-satunya hal yang dapat ku lakukan hanya bersembunyi. Aku sangat bodoh karena sesekali bahkan sering aku masih senang saat melihatmu. Bodohnya diriku.

Diam-diam aku berdoa, aku berharap kita bisa berteman seperti dulu lagi. Aku gagal dalam menghapus rasa itu secara keseluruhan. Aku gagal. Tapi aku masih tak mau berhenti untuk mencoba. Diam-diam setiap kali aku melangkah, aku berharap bertemu denganmu. Hari ini harapanku terkabul. Tanpa ku sangka dan ku perkirakan, kau muncul dari arah yang berlawanan denganku di koridor. Dalam hati aku bingung harus bagaimana. Ku lihat dirimu dengan canggungnya berpapasan denganku. Tak ada senyum yang terlihat di wajahmu. Namun bukan juga wajah berkspresi dingin yang ku lihat. Hingga detik ini aku masih tidak tahu ekspresi apa itu yang kau tunjukkan. Seakan-akan kau ingin tersenyum namun tertahan. Aku pun sama hal nya dengan dirimu. Diam-diam aku mencuri pandang ke arahmu. Bukan hanya sekali, entah berapa kali aku mencoba curi pandang yang tak jarang juga di balas oleh pandanganmu. Mengejutkan… ini semua terlalu mengejutkan bahwa aku harus bertemu denganmu di waktu yang tak aku perkirakan. Lagi-lagi diam-diam aku senang dapat melihatmu walau hanya beberapa detik, walau tak ada tegur sapa seperti dulu, walau hanya melihatmu seperti itu.

Kebetulan. Aku ingin bernegosiasi dengan kebetulan. Melihatmu yang selalu melintasi tangga dengan setiap kali aku melirik tangga, rasanya itu semua terlalu membuatku pusing sendiri. Setiap hari. Benar, setiap hari selalu seperti itu. Tak selalu aku memandang jendela. Tak selalu aku berharap kau melintas saat itu juga. Namun, kebetulan berkata lain. Setiap aku melihat keluar jendela, yang aku lihat hanya parasmu yang tampan. Setiap hari. Iya, setiap hari setelah hari itu aku selalu mendapat kebetulan itu. Aku melihatmu dengan tampannya melintasi tangga. Dengan terkesiapnya aku tak dapat berfikir apa-apa. Aku hanya bisa tersenyum dengan tulus dalam hati. Hati, aku sangat senang dapat melihatnya walaupun dia melihat orang lain. Maafkan aku karena aku pun tak bisa membendung perasaan ini. Sulit untukku mengakui bahwa aku masih ingin tinggal di dunia mimpi bersamamu.

Benarkah rasa ini sudah mendalam? Sesulit itu kah untuk di hilangkan? Mengapa harus sesulit itu? Hati ku yang malang… taukah kau betapa inginnya diriku untuk melupakan rasa dan kenangan bersamanya karena aku tak bisa terus-terusan seperti ini? Taukah kau betapa sulitnya aku menjalani hari dengan perasaan tak menentu ini? Kadang suka, kadang benci, kadang mengharapkan. Sangat labil. Mereka bilang jika kita menyukai seseorang lebih dari 4 bulan tandanya kita benar-benar menyukainya bukan hanya sekedar ‘suka-sukaan’. Sungguhkah aku sudah benar-benar menyukaimu? Sebuta itukah aku terhadap cinta? Atau hanya perasaanku saja yang egois masih ingin mengharapkannya walaupun sangat sedikit? Semua masalah ini terlalu rumit… tolong aku!

Page 190

6 Bulan, 6 hari.

190 hari. Cukup singkatkah hari-hari itu? Menurutku itu adalah sebuah petualangan mencari harta karun palsu. Semua rasa-rasa itu yang di mulai dari 0 menjadi 100 dan sekarang menjadi 0 lagi.

190 hari. Sudah cukup. Cukup dengan semua hari-hari itu. I love you but I’m letting go. Sekarang aku sadar, tak ada guna nya aku masih menyukaimu. Kau sudah benar-benar berjalan di jalanmu lagi. Kita sudah berbeda jalan lagi.

190 hari (21 hari+6hari). Everyday with every worthless word, we got more far away. The distance between us makes me so hard to stay… nothing lasts forever. But be honest babe, it hurts but maybe it the only way.

190 hari. Cukup lama bukan? Sudah berusaha namun hasilnya hanya ini, sakit? Memang sangat sakit pada awalnya. Namun lama-lama aku terbiasa dengan rasa sakit itu. Yang lama kelamaan hanya menjadi rasa yang hampa. Mungkin memang usahaku yang kurang. Namun… benarkah tak ada usaha yang sia-sia?

Bukankah kita sudah sama-sama lelah dengan perasaan kita? Atau hanya aku? Apa hanya aku yang merasa lelah dengan menghindarimu setiap hari di sekolah? Aku lelah mengapa harus menghindarimu. Aku memang ingin melupakan semua tentang kita dengan menghindarimu, tapi jujur saja menghindarimu pun tak berpengaruh sedikitpun kepadaku. Kau masih ada di benakku setelah kita berpisah. Walaupun kita tak selalu bertemu, bahkan kita sudah tak bertemu selama seminggu. Tak bertemu dengan mu pun aku masih memikirkanmu. Ya, kau masih singgah di pikiranku. Tapi tidak untuk kedepannya, ku harap.

Aku keliru. Jika diriku berkeinginan melupakan semua tentang kita, aku harus ikhlas dan memaafkanmu. Aku harus merelakan semua tentang kamu. Ya aku harus menerima kenyataan. Kenyataan bahwa, kau pernah singgah di hatiku dan pergi meninggalkan luka. Menerima kenyataan bahwa kau pernah membuat hari-hariku indah seakan-akan aku berada di surga dan menderita seakan-akan aku di neraka. Lagi-lagi aku harus menerima kenyataan bahwa selama ini kau tak pernah serius menjalani hubungan denganku. Dan yang terpenting adalah menerima kenyataan bahwa diriku bukan siapa-siapamu lagi. Walaupun setelah berhari-hari aku menenangkan diriku sendiri dan sekarang aku udah bisa nerima kamu jadi temen aku lagi, tapi aku enggak tau gimana sama kamu. Gimana sama kamu yang baru pisah langsung minta kita engga putus hubungan dan langsung aku gak setujuin karena memang pada saat itu aku masih benar-benar baru masuk pada masa ngedown.

Jujur saja, pagi ini aku merasa alasan yang kau berikan kepadaku itu hanya sekedar bualan. Lagi-lagi aku berfikir bahwa kau masih mengaguminya. Iya, dirinya. Dirinya dari masa lalu mu. Atau akan menjadi masa depanmu juga? Entahlah aku tak perlu lagi repot-repot memikirkan kau dan dirinya. Aku tak perlu lagi repot-repot menahan amarah ku saat kau bercanda tawa dengan teman wanitamu. Betulkah aku tak perlu seperti itu lagi? Iya, karena diriku bukan siapa-siapanya lagi. Aku hanya masa lalunya yang lain. Aku hanya masa lalu yang sedikit saja dihapus akan benar-benar terhapus. Aku hanya masa lalu yang akan hilang terbawa oleh arus masa lalumu.

Aku memang bukan orang yang sempurna yang selalu kau dambakkan. Iya, aku bukan orang itu. Aku cuma orang biasa yang engga secantik dia yang nerima kamu apa adanya. Orang biasa yang akan selalu mendengarkan ceritamu tanpa lelah namun kau malah membangun dinding yang tak dapat ku capai. Orang biasa yang akan selalu memperhatikanmu yang justru kau tanggapi dengan tanggapan lain. Ya.. biarlah. Semua sudah berlalu. Kau senang kan sudah tak ada yang meminta kabar saat kau bersenang-senang dengan temanmu? Kau tak akan pernah bisa paham maksudku ‘meminta kabar’ itu.

Selesai. Selesai sudah ceritaku. Bukan, bukan hanya ceritaku, cerita kita. Cerita kita yang akan hilang karena kau lupakan. Aku tak berharga bukan untukmu? Sekalipun aku selalu ada untukmu, hatimu hanya untuknya. Untuk orang lain. Bukan aku. Tak cukupkah aku selalu ada untukmu? Selalu tersenyum untukmu? Selalu memperhatikanmu? Mungkin bagimu tidak. Karena ketulusan dan kebaikanku sangat mudah dikalahkan oleh kecantikannya. Terserah kamu. Iya terserah kamu, karena itu udah bukan urusan aku lagi sekarang. Entah mengapa, firasatku sangat kuat mengatakan bahwa alasan kita berpisah karena kau masih mengagumi orang lain.

Aku butuh waktu. Semua orang butuh waktu. Semua orang butuh waktu, untuk menerima kenyataan. Sekarang, aku pun sudah dapat menerima kenyataan itu. Pahit memang, tapi mungkin ini yang terbaik. Bismillah. 

“Semua orang pernah terluka, all you have to do is move on.” -An author.

The Truth?

Empat. Empat hari. Empat hari tanpa senyum dan tawamu. Aku masih belum terbiasa.

Aku masih belum terbiasa menjalani hari tanpamu. Di dalam lubuk hatiku terdalam aku masih mencarimu, tapi aku tak menunjukkannya kepada siapapun. Kebenaran… dimana kau saat ini? Sedikit demi sedikit tersusun puzzle ini. Namun aku masih tidak mengerti. Mengapa masalah ini semakin hari semakin rumit?

Apa benar aku masih mengharapkanmu? Aku masih tidak tahu. Sedikit harapanku bahwa kau hanya bercanda. Ingin rasanya mendengarmu bilang ‘aku cuma bercanda’, tapi setelah hari ini… rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin kau bercanda setelah aku tau bahwa kau juga mengakui kepada temanmu. Tetapi… jika mengingat kata-katamu… rasanya tak sanggup bila harus bertatapan lagi denganmu. Apa memang lebih baik seperti ini? Kembali menjadi saling tak mengenal? Saling menghindar? Atau hanya perasaanku saja? Aku ragu. Aku bimbang. Aku benar-benar butuh berbicara kepadamu secara langsung agar semuanya jelas dan tidak lagi menjadi beban pikiranku, walaupun diam-diam aku takut jatuh hati lagi kepadamu. Aku ingin berbicara padamu.. sekali lagi saja agar masalah ini selesai. Bukan, bukan maksudku untuk kembali lagi padamu. Kalau kamu gak nyaman, aku bisa apa? Aku gak bisa apa-apa. Kalo aku maafin kamu dan kita jadi temen lagi, mungkin gak sih aku bakal suka lagi sama kamu? Aku… ragu. Aku mau maafin kamu tapi aku takut dekat denganmu lagi. Bukan karena kamu pernah ngasih aku luka, tapi aku takut jatuh hati lagi sama kamu.

Kamu tau gak kamu masih jadi beban pikiran aku? Di tambah keadaan yang bikin semuanya menjadi berat. Kamu yang pingin semua ini selesai, tapi kamu juga yang masih menyisakan misteri di balik ini semua. Masih ada dua hal yang jadi misteri buat aku. Kamu seneng ngeliat aku menderita? Aku emang gak pernah nunjukin ke kamu atau ke orang yang kamu kenal kalo sebenarnya di lubuk hati aku yang terdalam aku masih bersedih. Sebisa mungkin aku nunjukin ke kalian kalo aku baik-baik aja. But the truth is… i’m dying inside.

Terkadang… jalan pikiran ku memang sudah bukan remaja biasanya lagi, namun ketahuilah mentalku masih remaja. Aku masih remaja labil. Aku tak dapat berbohong, umur bukan lah sekedar angka. Umurku masih remaja. Aku masih mencari-cari jati diriku.

Temanmu bilang kau sedang merenung. Benarkah? Bercandakah? Apa yang kau renungkan? Apa yang menyulitkanmu? Entahlah hanya kau yang tau.

Semua ini masih membingungkan. Perasaan ini, keadaan ini dan kamu.

21 Days

Apa benar hanya sesingkat itu? Tak ada yang bisa kita perbaiki lagi?

Aku ragu dengan semua alasan mu. Entah itu alasan atau hanya basa-basi belaka agar hatiku tak begitu sakit. Namun kenyataannya, dengan hanya mendengar beberapa kalimat itu saja hatiku sudah teriris-iris menjadi kepingan kecil yang tak terhingga. Kau tak mengerti betapa sakit yang ku rasa saat ini. Aku lelah. Aku capek. Capek fisik, capek batin dan capek pikiran.

Apa 5 bulan menurut mu terlalu singkat? Atau 21 hari terlalu lama karena kau menanti-nantikan hari kita berpisah? Setega ini kah dunia mempermainkanku? Atau kau yang hanya mempermainkanku? Mereka bilang: ‘Tidak ada usaha yang sia-sia, semua akan indah pada saatnya.’ 

Nyatanya…

Usahaku selama 5 bulan hanya terbalas oleh 21 hari? Saat aku merasa bahwa ‘akhirnya ini adalah saatnya indah pada waktunya’ kau malah meninggalkanku di belakang dan menyisakan luka sesakit mungkin. Sungguh… kenyataan itu sangat menyakitkan bagiku. Hingga detik ini aku menuturkan kata demi kata di setiap tulisanku, aku masih tak bisa memaafkanmu yang keterlaluan. Setiap kali aku ingin memaafkanmu, kata-kata menyakitkan itu secara refleks ada di benakku. Aku tak bisa mengelak. Kata-katamu masih menyakitkan hatiku hingga detik ini. Ada sebagian hatiku yang ingin memaafkanmu, namun sebagiannya tak ingin memaafkanmu yang sudah berbuat sebegitu niatnya untuk menyakiti hatiku. Apakah menurutmu memainkan perasaanku adalah keharusan yang dapat menghiburmu?

Kau bilang kita berbeda. 5 bulan berbanding 21 hari adalah perbedaan. Jelas berbeda, temanku yang pernah mengisi hatiku. 5 bulan aku mengagumimu dari jauh, hanya bisa berkomunikasi denganmu melalui alat bantu komunikasi. 5 bulan aku menanggung bebanku sendiri. 5 bulan aku mengobati luka-luka kecil yang kau beri dengan sendirinya. Aku sendirian. Sampai hari ke-21 pun aku masih sendiri. Aku masih sendiri karena hanya aku yang mempertahankan. Ternyata selama ini, aku masih bermimpi. Bermimpi akan mendapatkan mimpiku paling atas, yaitu mendapatkan hatimu seutuhnya.

5 bulan lamanya kita mencoba saling dekat. Tak setiap hari kita berkomunikasi, karena aku tak selalu mempunyai bahan pembicaraan dan tak setiap hari moodku bagus. Namun setiap rasa rindu di hati ini sudah tak tertahankan.. aku melupakan gengsiku dan mencoba untuk berbicara padamu. Tak sering kita berkomunikasi, namun sesekali berkomunikasi sangat mengasyikan. 

Beda seperti saat kita bersama. Saat kita bersama komunikasi adalah hal yang penting dalam sebuah hubungan, namun kau malah menyepelekan hal tersebut. Aku tak memaksa, aku tak pernah melarangmu bermain dengan siapapun. Aku hanya ingin tau keberadaanmu dan keadaanmu. Apa aku salah? Aku salah berfikir seperti itu? Aku harus bagaimana? Berpura-pura tak menginginkan kabarmu agar kau bebas namun justru kau malah berfikir aku tak peduli padamu atau aku harus peduli padamu namun kau malah berfikir aku mengatur hidupmu?

Aku sangat mengasyikan karena aku tak benar-benar menjaga perasaanmu. Maksudku, masih ada selaan candaan diantara kita. Namun, saat kita bersama… Demi 17, aku menjaga perasaanmu sehati-hati mungkin. Apa kau pernah berfikir untuk menjaga perasaanku? Pernahkah kau berfikir untuk berusaha agar kita tak hanya sampai disini? Aku rasa tidak.

Manis sekali kata-katamu. Manis sekali semua tutur kata yang kau ucapkan padaku selama ini. Mana kata-katamu yang dulu ingin melewati hari-hari bersamaku melebihi sepuluh bulan lamanya? Apa itu hanya bualan belaka? Mengapa kau harus berbohong kepadaku dan dirimu sendiri? Apa selucu itu aku di matamu? Apakah aku memang seperti lelucon yang selalu dapat kau mainkan? Teganya dunia ini membiarkan kau mempermainkan perasaanku.

Bahkan saat kau meminta maaf kepadaku, aku ragu kau tulus atau tidak. Kau benar-benar sudah menghancurkan kepercayaan yang aku beri. Kepercayaanku kepadamu seperti sebuah gelas kaca. Ya, sebuah gelas. Sebuah gelas yang jika jatuh akan hancur berkeping-keping. Mungkin akan bisa diperbaiki. Namun membutuhkan waktu yang lama. Walaupun keping gelas kaca itu diperbaiki.. masih ada retak kaca yang terlihat. Itulah kepercayaanku kepadamu yang sudah kau hancurkan.

Kalau niat pasti berusaha. Namun aku tak pernah melihat usahamu yang sungguh-sungguh. Usahamu yang benar-benar membuatku terkesan sampai aku tak dapat berkata apa-apa. Aku tak melihat usahamu untuk mempertahankan semua ini. Kau hanya menghancurkan semua impianku, harapanku, kepercayaanku.

“Mengapa aku harus mencari yang jauh jika ada yang dekat? Namun ternyata rasanya berbeda.”

Kau bilang seperti itu kepadaku. Taukah kau apa yang ada di benakku? Menurutku, kau tak pernah sungguh-sungguh menyukaiku. Jelas sekali kenapa aku berfikir seperti itu, karena sesungguhnya sejak awal hanya aku yang berjuang. Hanya aku yang benar-benar merasakan asin, manis, pahitnya perjuanganku. Sedangkan kau? Kau menyukai seseorang saat aku menyukaimu. Lalu kemudian aku datang ke kehidupanmu dan menghapus kekesepianmu karenanya. Aku hanya sebuah pelampiasan. Aku hanya seseorang yang tak berharaga unutkmu, benar?

Kau ingin aku kembali menjadi temanmu. Hei kawan, pernahkah kau berfikir betapa sulitnya memaafkanmu setelah apa yang kau perbuat? Aku memang selalu memaafkan kesalahan kecilmu. Namun kali ini berbeda. Ini bukan masalah kecil yang sepele. Ini masalah besar. Aku tidak bisa menerimamu menjadi temanku semudah itu. Membutuhkan waktu yang lama  bagiku untuk meghapus luka besar yang kau buat. Bukankah kau cukup egois untuk memintaku tetap menjadi temanmu sementara aku terus-terusan mencegah diriku sendiri untuk tidak lagi masuk kedalam perangkap sial mu itu? Tidakkah cukup egois untuk memintaku tetap menjadi temanmu dalam waktu secepat itu sementara aku masih mengobati luka besar ini? Apa aku salah masih belum bisa menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini? Berhentilah mempermainkan perasaanku, kau harusnya lebih peduli dengan perasaan orang lain.

Mengapa kau tak pernah belajar dari pengalaman? Pengalaman hidup bersama orang-orang yang pernah mengisi hatimu. Aku mohon jangan sama kan aku dengan ‘dia’. Jangan samakan aku dengan ‘mereka’, aku berbeda. Kau perlu tau bahwa aku berbeda. Tak semua perempuan sama seperti apa yang kau pikirkan di dalam benakmu. Aku berbeda dengan ‘mereka’. Bagaimanapun, aku berbeda. Aku tak se-asyik ‘dia’. Tapi aku bisa mengerti kau apa adanya. Memang pada dasarnya kau tak dapat mengerti aku sebgaiamananya diriku. Kau menuntutku lebih secara tidak langsung. Aku adalah orang yang kaku. Aku bukan orang yang dapat beradaptasi dengan mudah. Sadarkah engkau bahwa kita baru meginjak 21 hari? Belum lama, masih baru, dan sangat baru. Apa kau tau? Semua hal itu butuh proses. Tak ada hal yang bisa langsung menjadi apa yang kau inginkan.

Aku sempat berfikir… apa kau memanfaatkan kebaikanku? Apa kau memanfaatkan sifat pemaafku? Tidak. Ini hal yang berbeda. Aku tak semudah itu memaafkan orang setega kau. Tega nya kau jika berfkiran sedemikian rupa. Kenapa sesulit itu untuk memikirkan perasaan orang lain walaupun hanya sekecil pun? Aku harap kedepannya kau dapat berubah dengan seseorang yang dapat memenuhi keinginanmu. Mungkin aku memenuhi kebutuhanmu, bukan keninginanmu. Karena memang pada dasarnya manusia lebih mementingkan keinginan bukan kebutuhan. Padahal mereka lebih membutuhkan kebutuhan daripada keinginan.

Lalu, selama kita bersama bagaimana aku bisa mendekatimu sedangkan kau masih membangun dinding setinggi mungkin yang tak dapat ku capai? Bagaimana aku bisa menjadi yang kau mau sementara perasaanmu tak pernah bisa terbuka denganku? Aku heran.. apa susahnya berkata jujur kepadaku? Aku tak akan tersakiti, itu adalah sebuah masukan yang akan mengubahku menjadi lebih baik. Namun nyatanya kau tak melakukan itu. Mengapa jalan pikiran kita berbeda?

Namun… sudahlah. Tak ada kata yang bisa mendiskripsikan betapa sakitnya hati ini. Semua sudah terjadi. Kita berjalan pada jalan yang berbeda lagi. Aku berdoa yang terbaik untukmu. Semoga suatu saat kau dapat mengerti niat baikku selama ini. Bukan sama sekali maksudku untuk mengatur hidupmu. Sungguh… aku harap suatu hari kau sadar betapa aku mempercayaimu saat itu.

Sekalipun aku masih menyayangimu, aku tak bisa melakukan itu. Karena kamu pun tidak. Selamat tinggal 17.